Eksistensi Kamera Analog di Zaman Serba Instan

Dunia fotografi terus berkembang, tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Perkembangan tersebut ditandai dengan keberadaan kamera digital.


Dengan kamera digital, orang dengan mudah dapat mengambil gambar di mana saja dan kemudian membagikannya melalui media sosial dalam hitungan detik. Perkembangan kamera digital, ternyata bukan serta merta menghapus eksistensi kamera analog.


Penggunaan kamera analog ( dengan role film) awalnya diperkenalkan oleh George Eastmen pada abad ke-19 tepatnya tahun 1885. Setelah melakukan beberapa kali percobaan, Eastmen berhasil menemukan ramuan emulsi untuk fotografi pelat kering. Hingga pada 4 September 1888, Eastmen mendaftarkan merek dagang Kodak secara resmi. Hal ini menjadi cikal bakal tersebarnya fotografi ke khalayak umum.


Kamera analog merupakan kamera yang dalam teknik pengambilan gambarnya masih menggunakan Role film. Ada beberapa hal yang membuat kamera analog tetap eksis hingga saat ini.


Salah satunya adalah Nostalgia untuk mengenang masa memakai kamera analog. Mengembangkan serta menyimpan pengetahuan tentang teknik dasar kamera analog dan proses cuci cetak nya bagai Kan mengabadikan sejarah fotografi.

Kemudian orang-orang akan lebih menikmati hasil foto kamera analog karena membutuhkan beberapa proses untuk menghasilkan foto yang tercetak, mulai dari pengambilan foto yang harus ekstra hati-hati dan teliti karena role film yang bisa jadi terbatas, berbeda dengan kamera digital yang apabila dirasa kurang ouas bisa langsung dihapus.

Kemudian peracikan bahan kimia untuk cuci cetak foto hingga proses pengeringan dikamar gelap. Hal tersebut akan lebih bisa memberikan rasa untuk menikmati sebuah hasil ketimbang kamera digital yang notabenenya menggunakan memori dan langsung bisa dicetak melalui printer.


Dengan kamera analog, daya pikir fotografer bekerja pada saat mengabadikan gambar, menghitung bukaan diafragma dengan speed kamera masih diatur dengan fotografer. Bukan pada mesin kamera digital yang langsung dapat dilihat hasilnya melalui layar LCD di kamera digital.
Namun sebelum memulai, pastikan dulu biaya yang diperlukan.

Bisa dikatakan biaya penggunaan kamera film cukup mahal dibandingkan dengan media foto yang lainnya. Karena biaya satu rol saat ini ditaksir dengan harga kurang lebih Rp 75.000 serta cuci pindai sekitar Rp 50.000. Dengan rincian harga ini kurang lebih harus menyiapkan uang sebesar Rp 125.000 agar dapat menikmati sensasi bermain kamera film.


Tren kamera film yang kembali digemari merupakan suatu hal yang patut diapresiasi di tengah canggihnya teknologi yang serba instan. Bermain kamera film mengajarkan arti kesabaran dalam menikmati sebuah proses panjang serta menghargai hasil. Karena kamera film hadir sebagai pelengkap ditengah masifnya perkembangan kamera digital.


Hingga saat ini masih banyak komunitas fotografi baik dari kalangan mahasiswa atau lanjut yang masih mengabadikan keilmuan tentang kamera analog sebagai bentuk apresiasi akan sejarah fotografi yang diharapkan bisa Terus diingat.


Sumber :
https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/3890836/cerita-akhir-pekan-kamera-analog-tetap-eksis-di-era-digital
Photo by : otto / pinterest https://pin.it/h4epfbj